Selasa, 21 Juni 2011

MENJADI bukan MENCARI


Bertemu yang sholehah, sholehahnya dia belum tentu kekal.
Bertemu yang sholeh, sholehnya boleh berubah.
kerana si sholeh dan si sholehah adalah insan biasa.
Perkawinan adalah sebagian dari pada proses untuk MENJADI, bukan MENCARI.


Ulama berkata :
"Untuk mencari seorang wanita yg benar2 sholehah itu seumpama mencari belalang merah di dalam semak".
Kalau belalang hijau pun susah untuk dicari, apa lagi belalang merah.

Ya Allah,
Jika dia benar untukku,
Dekatkanlah hatinya dengan hatiku,
Jika dia bukan milikku,
Damaikanlah hatiku,
Dengan ketentuan-Mu..

Ya Allah,
kepadaMu aku kembali,
kepadaMu cinta yg agung,
Engkau senantiasa menemani hambaMu,
dikala susah atau senang,
jadikan lah aku kekasihMu dan,
jgn lah Engkau menjauhiku dari rahmatMu dan kasihMu,
wahai yang Maha Pengasihi diantara pengasih..

http://www.facebook.com/Raudhatul Jannah (Taman Syurga)
readmore »»  
Baca Selengkapnya..

Senin, 20 Juni 2011

Ketika Cinta Terurai Menjadi Perbuatan

Kulitnya hitam. Wajahnya jelek. Usianya tua.
Waktu pertama kali masuk ke rumah wanita itu, hampir saja ia percaya kalau
ia berada di rumah hantu.
Lelaki kaya dan tampan itu sejenak ragu kembali. Sanggupkah ia menjalani
keputusannya?
Tapi ia segera kembali pada tekadnya. Ia sudah memutuskan untuk menikahi
dan mencintai perempuan itu. Apapun resikonya.

Suatu saat perempuan itu berkata padanya, "Ini emas-emasku yang sudah lama kutabung, pakailah ini untuk mencari wanita idamanmu, aku hanya
membutuhkan status bahwa aku pernah menikah dan menjadi seorang istri."
Tapi lelaki itu malah menjawab, "Aku sudah memutuskan untuk mencintaimu. Aku takkan menikah lagi."

Semua orang terheran-heran. Keluarga itu tetap utuh sepanjang hidup mereka.
Bahkan mereka dikaruniai anak-anak dengan kecantikan dan ketampanan yang luar biasa. Bertahun-tahun kemudian orang-orang menanyakan rahasia ini padanya. Lelaki itu menjawab enteng, "Aku memutuskan untuk mencintainya. Aku berusaha melakukan yang terbaik. Tapi perempuan itu melakukan semua kebaikan yang bisa ia lakukan untukku. Sampai aku bahkan tak pernah merasakan kulit hitam dan wajah jeleknya dalam kesadaranku. Yang kurasakan adalah kenyamanan jiwa yang melupakan aku pada fisik."

- - -

Begitulah cinta ketika ia terurai jadi perbuatan. Ukuran integritas cinta adalah ketika ia bersemi dalam hati... terkembang dalam kata... terurai dalam perbuatan...

Kalau hanya berhenti dalam hati, itu cinta yang lemah dan tidak berdaya.
Kalau hanya berhenti dalam kata, itu cinta yang disertai dengan kepalsuan
dan tidak nyata...

Kalau cinta sudah terurai jadi perbuatan, cinta itu sempurna seperti pohon;
akarnya terhunjam dalam hati, batangnya tegak dalam kata, buahnya menjumbai dalam perbuatan. Persis seperti iman, terpatri dalam hati, terucap dalam lisan, dan dibuktikan oleh perbuatan.

Semakin dalam kita merenungi makna cinta, semakin kita temukan fakta besar ini, bahwa cinta hanya kuat ketika ia datang dari pribadi yang kuat, bahwa integritas cinta hanya mungkin lahir dari pribadi yang juga punya integritas. Karena cinta adalah keinginan baik kepada orang yang kita cintai yang harus menampak setiap saat sepanjang kebersamaan.

Rahasia dari sebuah hubungan yang sukses bertahan dalam waktu lama adalah pembuktian cinta terus menerus. Yang dilakukan para pecinta sejati disini adalah memberi tanpa henti. Hubungan bertahan lama bukan karena perasaan cinta yang bersemi di dalam hati, tapi karena kebaikan tiada henti yang dilahirkan oleh perasaan cinta itu. Seperti lelaki itu, yang terus membahagiakan istrinya, begitu ia memutuskan untuk mencintainya. Dan istrinya, yang terus menerus melahirkan kebajikan dari cinta tanpa henti. Cinta yang tidak terurai jadi perbuatan adalah jawaban atas angka-angka perceraian yang semakin menganga lebar dalam masyarakat kita.**

http://www.facebook.com/pages/Belajar-Mencintai-Allah-Sebelum-Aku-Belajar-Mencintai-Kekasih-Ku
readmore »»  
Baca Selengkapnya..

Kamis, 16 Juni 2011

Cara Abu Nawas Merayu Tuhan

Tak selamanya Abu Nawas bersikap konyol. Kadang-kadang timbul kedalaman hatinya yang merupakan bukti kesufian dirinya. Bila sedang dalam kesempatan mengajar, ia akan memberikan jawaban-jawaban yang berbobot sekalipun ia tetap menyampaikannya dengan ringan.

Seorang murid Abu Nawas ada yang sering mengajukan macam-macam pertanyaan. Tak jarang ia juga mengomentari ucapan-ucapan Abu Nawas jika sedang memperbincangkan sesuatu. Ini terjadi saat Abu Nawas menerima tiga orang tamu yang mengajukan beberapa pertanyaan kepada Abu Nawas.

“Manakah yang lebih utama, orang yang mengerjakan dosa-dosa besar atau orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil?” ujar orang yang pertama.

“Orang yang mengerjakan dosa kecil,” jawab Abu Nawas.

“Mengapa begitu,” kata orang pertama mengejar.

“Sebab dosa kecil lebih mudah diampuni oleh Allah,” ujar Abu Nawas. Orang pertama itupun manggut-manggut sangat puas dengan jawaban Abu Nawas.

Giliran orang kedua maju. Ia ternyata mengajukan pertanyaan yang sama, “Manakah yang lebih utama, orang yang mengerjakan dosa-dosa besar atau orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil?” tanyanya.

“Yang utama adalah orang yang tidak mengerjakan keduanya,” ujar Abu Nawas.

“Mengapa demikian?” tanya orang kedua lagi.

“Dengan tidak mengerjakan keduanya, tentu pengampunan Allah sudah tidak diperlukan lagi,” ujar Abu Nawas santai. Orang kedua itupun manggut-manggut menerima jawaban Abu Nawas dalam hatinya.

Orang ketiga pun maju, pertanyaannya pun juga seratus persen sama. “Manakah yang lebin utama, orang yang mengerjakan dosa-dosa besar atau orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil?” tanyanya.

“Orang yang mengerjakan dosa besar lebih utama,” ujar Abu Nawas.

“Mengapa bisa begitu?” tanya orang ktiga itu lagi.

“Sebab pengampunan Allah kepada hamba-Nya sebanding dengan besarnya dosa hamba-Nya,” ujar Abu Nawas kalem. Orang ketiga itupun merasa puas argumen tersebut. Ketiga orang itupun lalu beranjak pergi.

***

Si murid yang suka bertanya kontan berujar mendengar kejadian itu. “Mengapa pertanyaan yang sama bisa menghasilkan tiga jawaban yang berbeda,” katanya tidak mengerti.

Abu Nawas tersenyum. “Manusia itu terbagi atas tiga tingkatan, tingkatan mata, tingkatan otak dan tingkatan hati,” jawab Abu Nawas.

“Apakah tingkatan mata itu?” tanya si murid.

“Seorang anak kecil yang melihat bintang di langit, ia akan menyebut bintang itu kecil karena itulah yang tampak dimatanya,” jawab Abu Nawas memberi perumpamaan.

“Lalu apakah tingkatan otak itu?” tanya si murid lagi.

“Orang pandai yang melihat bintang di langit, ia akan mengatakan bahwa bintang itu besar karena ia memiliki pengetahuan,” jawab Abu Nawas.

“Dan apakah tingkatan hati itu?” Tanya si murid lagi.

“Orang pandai dan paham yang melihat bintang di langit, ia akan tetap mengatakan bahwa bintang itu kecil sekalipun ia tahu yang sebenarnya bintang itu besar, sebab baginya tak ada satupun di dunia ini yang lebih besar dari Allah SWT,” jawab Abu Nawas sambil tersenyum.

Si murid pun mafhum. Ia lalu mengerti mengapa satu pertanyaan bisa mendatangkan jawaban yang berbeda-beda. Tapi si murid itu bertanya lagi.

“Wahai guruku, mungkinkah manusia itu menipu Tuhan?” tanyanya.

“Mungkin,” jawab Abu Nawas santai menerima pertanyaan aneh itu.

“Bagaimana caranya?” tanya si murid lagi.

“Manusia bisa menipu Tuhan dengan merayu-Nya melalui pujian dan doa,” ujar Abu Nawas.

“Kalau begitu, ajarilah aku doa itu, wahai guru,” ujar si murid antusias.

“Doa itu adalah, “Ialahi lastu lil firdausi ahla, Wala Aqwa alannaril Jahimi, fahabli taubatan waghfir dzunubi, fa innaka ghafiruz dzambil adzimi.” (Wahai Tuhanku, aku tidak pantas menjadi penghuni surga, tapi aku tidak kuat menahan panasnya api neraka. Sebab itulah terimalah tobatku dan ampunilah segala dosa-dosaku, sesungguhnya Kau lah Dzat yang mengampuni dosa-dosa besar).

Banyak orang yang mengamalkan doa yang merayu Tuhan ini.

http://www.sufiz.com/kisah-abu-nawas/cara-abu-nawas-merayu-tuhan.html
readmore »»  
Baca Selengkapnya..

Rabu, 15 Juni 2011

Keutamaan Menyebarkan Salam

Rasulullah SAW bersabda : “Kamu tidak akan masuk surga hingga kamu beriman, kamu tidak akan beriman secara sempurna hingga kamu salaing mencintai. Maukah aku tunjukkan kepadamu, apabila kamu lakukan, kamu akan saling mencintai? Biasakanlah mengucapkan salam diantara kamu”. (HR. Muslim 1/74 dan lainnya).

Ammar bin Yasir r.a. berkata : “Ada tiga perkara, barangsiapa yang bisa mengerjakan, maka sesungguhnya telah mengumpulkan keimanan: koreksi diri (inshaf), menyebarkan salam keseluruh penduduk dunia, berinfak dalam keadaan fakir”. (HR. Bukhari).

Abdullah bin Umar r.a. berkata : Sesungguhnya seorang laki-laki bertanya kepada Nabi SAW., manakah ajaran Islam yang lebih baik? Rasul SAW bersabda : Hendaklah engkau memberi makanan, mengucapkan salam kepada orang yang kamu kenal dan yang tidak”. (HR. Bukhari dan Muslim 1/65)

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِن نَّسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ ۖ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا ۚ أَنتَ مَوْلَانَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ (286

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir".

http://moslempraying.anna-world.com
readmore »»  
Baca Selengkapnya..

Senin, 13 Juni 2011

Kebiasaan-Kebiasaan Rosululloh SAW

RASULULLAH SAW APABILA DI LUAR

Kata Hassan selanjutnya, "Kemudian aku tanyakan kepada ayahku bagaimanakah keadaan Rasulullah SAW apabila berada di luar. Maka jawabnya, "Rasulullah SAW sentiasa menjaga lidahnya kecuali hanya untuk berbicara seperlunya, apabila berbicara sentiasa berbicara dengan halus (lemah-lembut) dan tidak pernah berbicara dengan kasar terhadap mereka, dan sentiasa memuliakan terhadap orang yang terpandang (berkedudukan) dan memperingatkan orang jangan sampai ada yang bertindak menyinggung perasaannya dan perbuatannya. Kebiasaan Baginda selalu menanyakan keadaan sahabat-sahabatnya, dan Baginda selalu memuji segala sesuatu yang baik dan membenci segala sesuatu yang buruk. Segala urusannya itu dibuatnya sebaik mungkin. Tidak pernah Baginda lalai atau malas, demi menjaga jangan sampai mereka melalaikan dan meremehkan. Segala sesuatu dipersiapkannya terlebih dahulu, dan tidak pernah akan meremehkan (mengecilkan) kebenaran. Orang yang paling terpandang menurut Rasulullah SAW ialah mereka yang paling baik kelakuannya, orang yang paling mulia ialah mereka yang paling banyak bernasihat (memberikan petunjuk) kepada orang lain, dan orang yang paling tinggi sekali kedudukannya ialah orang yang selalu ramah-tamah dan yang paling banyak menolong orang lain.".

RASULULLAH SAW APABILA DUDUK

Kata Hasan, "Kemudian aku tanyakan tentang duduknya Rasulullah SAW. Jawabnya, "Kebiasaan Rasulullah SAW tidak pernah duduk ataupun berdiri melainkan dengan berzikir, tidak pernah menguasai tempat duduk dan Baginda melarang seseorang untuk menguasai tempat duduk, dan apabila Baginda sampai pada tempat orang yang sedang berkumpul maka Baginda duduk di mana ada tempat terluang (tidak pernah mengusir orang lain dari tempat duduknya) dan Baginda juga menyuruh berbuat seperti itu. Baginda selalu memberikan kepuasan bagi sesiapa saja yang duduk bersama Baginda, sehingga jangan sampai ada orang yang merasa bahawa orang lain dimuliakan oleh Baginda lebih daripadanya. Apabila ada yang duduk di majlisnya, Baginda selalu bersabar sampai orang itu yang akan bangkit terlebih dahulu (tidak pernah mengusir teman duduknya). Dan apabila ada yang meminta pada Baginda sesuatu hajat maka Baginda selalu memenuhi permintaan orang itu, atau apabila tidak dapat memenuhinya Baginda selalu berkata kepada orang itu dengan perkataan yang baik. Semua orang selalu puas dengan budi pekerti Baginda sehingga mereka selalu dianggap sebagai anak Baginda dalam kebenaran dengan tidak ada perbezaan sekikit pun di antara mereka dalam pandangan Baginda. Kemudian majlis Baginda itu adalah tempatnya orang yang ramah-tamah, malu, orang sabar dan menjaga amanah, tidak pernah di majlisnya itu ada yang mengeraskan suaranya, di majlisnya itu tidak akan ada yang mencela seseorang jelek dan tidak akan ada yang menyiarkan kejahatan orang lain. Di majlisnya itu mereka selalu sama rata, yang dilebihkan hanya ketakwaan saja, mereka saling berlaku rendah diri (bertawadhu') sesama mereka, yang tua selalu dihormati dan yang muda selalu disayangi, sedangkan orang yang punya hajat lebih diutamakan (didahulukan) dan orang-orang asing (ghorib) selalu dimuliakan dan dijaga perasaannya."

RASULULLAH SAW DI TENGAH PARA SAHABAT

Kata Hassan, "Maka aku tanyakan tentang keadaannya apabila Baginda sedang berada di tengah-tengah para sahabatnya. Jawabnya, "Rasulullah SAW sentiasa periang (gembira), budi pekertinya baik, sentiasa ramah-tamah, tidak kasar mahupun bengis terhadap seesorang, tidak suka berteriak-teriak, tidak suka perbuatan yang keji, tidak suka mencaci, dan tidak suka bergurau (olok-olokan), selalu melupakan apa yang tidak disukainya, dan tidak pernah menolak permintaan seseorang yang meminta. Baginda meninggalkan tiga macam perbuatan : Baginda tidak mahu mencela seseorang atau menjelekkannya, dan tidak pernah mencari-cari kesalahan seseorang, dan tidak akan berbicara kecuali yang baik saja (yang berfaedah). Namun apabila Baginda sedang berbicara maka pembicaraannya itu akan membuat orang yang ada di sisinya menjadi tunduk, seolah-olah di atas kepala mereka itu ada burung yang hinggap. Apabila Baginda sedang berbicara maka yang lain diam mendengarkan, namun apabila diam maka yang lain berbicara, tidak ada yang berani di majlisnya untuk merosakkan (memutuskan) pembicaraan Baginda. Baginda sentiasa ikut tersenyum apabila sahabatnya tersenyum (tertawa), dan ikut juga takjub (hairan) apabila mereka itu merasa takjub pada sesuatu, dan Baginda sentiasa bersabar apabila menghadapi seorang baru (asing) yang atau dalam permintaannya sebagaimana sering terjadi. Baginda bersabda, "Apabila kamu melihat ada orang yang berhajat maka tolonglah orang itu, dan Baginda tidak mahu menerima pujian orang lain kecuali dengan sepantasnya, dan Baginda tidak pernah memotong pembicaraan orang lain sampai orang itu sendiri yang berhenti dan berdiri meninggalkannya."

RASULULLAH SAW APABILA DIAM

Kata Hassan, "Selanjutnya aku tanyakan padanya bagaimanakah pribadi Rasulullah SAW apabila Baginda diam. Jawabnya, "Diamnya Rassulullah SAW terbagi dalam empat keadaan : diam kerana berlaku santun, diam kerana selalu berhati-hati, diam untuk berlaku untuk mempertimbangkan pendapat orang lain serta mendengarkan pembicaraan orang lain, sedangkan pemikirannya selalu tertuju pada segala sesuatu yang akan kekal dan sesuatu yang akan lenyap (fana'). Peribadi Rasulullah sAW sentiasa berlaku santun dan sabar dan Baginda tidak pernah membuat kemarahan seseorang dan tidak pernah membuat seseorang membencinya, dan Baginda sentiasa berlaku hati-hati dalam segala perkara; selalu suka pada kebaikan, dan berbuat sekuat tenaga untuk kepentingan dan demi kebaikan mereka itu baik di dunia mahupun kelak di akhirat."
readmore »»  
Baca Selengkapnya..

Kebiasaan Rosululloh SAW


Kataku selanjutnya, "Terangkanlah kepadaku tentang kebiasaannya." Maka katanya, "Keadaan peribadi Rasulullah SAW itu biasanya tampak selalu kelihatan seolah-olah selalu berfikir, tidak pernah mengecap istirehat walau sedikit pun, tidak berbicara kecuali hanya apabila perlu, sentiasa diam, selalu memulai berbicara dan menutupnya dengan sepenuh mulutnya (jelas), apabila sedang berbicara Baginda selalu memakai kalimat-kalimat yang banyak ertinya (bijaksana), pembicaraannya itu jelas tanpa berlebihan ataupun kurang, lemah lembut budi pekertinya, tidak kasar, tetapi bukannya rendah, selalu mengagungkan nikmat Allah SAW walaupun yang sekecil-kecilnya dan tidak pernah mencelaNya sedikit pun. Apabila ada orang yang memperkosa kebenaran, maka Baginda akan marah-marah dengan sangat dan tidak ada seorang pun yang dapat menghalangi kemarahannya itu sampai kebenaran itu akan menang. (Dan dalam riwayat lain disebutkan, bahawa Baginda tidak pernah marah apabila berkenaan dengan urusan keduniaan, tetapi apabila ada sesuatu yang benar sedang diperkosa maka Baginda akan marah sehingga tidak akan memandang sesiapa pun juga dan tidak akan ada yang dapat menghalangi kemarahannya itu sampai kebenaran itu menang, dan tidak pernah marah kerana dirinya). Apabila Baginda sedang memberikan isyarat (menunjuk), maka Baginda mengisyaratkan dengan seluruh telapak tangannya, apabila sedang takjub pada sesuatu maka Baginda balikkan telapak tangannya, apabila Baginda sedang
berbicara maka sering Baginda memukulkan telapak tangannya yang kanan pada ibu jari tangan kirinya, apabila sedang marah maka sering Baginda berpaling. Apabila sedang bergembira Baginda sering tersenyum (ketawa), apabila tertawa Baginda sentiasa tersenyum saja, dan senyumannya itu serupa dengan embun yang dingin. Maka kata Hassan berita ini aku sembunyikan dan adikku ternyata sudah lebih dahulu mengetahuinya daripadaku dan malahan dia sendiri telah bertanya pada ayahnya tentang keadaan keluar masuknya Rasulullah SAW ke majlisnya, dan bentuknya pun tidak juga ketinggalan sedikitpun jua." Kata Hasan, "Maka aku pun pernah bertanya tentang peribadi Rasullullah SAW dan dia pun menjawab, "Bahawa Rasulullah SAW apabila telah masuk ke rumahnya, Baginda membahagi waktunya menjadi tiga bahagian. Sebahagian untuk Allah SWT, sebahagian lagi untuk keluarganya dan sebahagiannya yang lain untuk dirinya sendiri. Kemudian bahagian untuk dirinya itu dibahagikan pula untuk kepentingannya sendiri dan untuk kepentingan orang lain. Baginda selalu mengutamakan kepentingan umum lebih dari kepentingan peribadinya sendiri, Baginda tidak pernah mengurangi hak mereka sedikit pun. Adapun contoh dari sirahnya berkenaan dengan kepentingan umat, adalah bahawa Baginda lebih mengutamakan orang-orang yang mulia dengan segala kesopanan dan menurut kedudukannya dalam ketakwaan. Sebahagian daripada mereka ada yang mempunyai satu kepentingan, ada pula yang mempunyai dua kepentingan, dan ada pula yang mempunyai banyak keperluan. Untuk itu Baginda menyibukkan dirinya dengan mereka dan mengatur mereka demi untuk kepentingan mereka dan sekalian umat dari urusannya tadi. Baginda sibuk dengan memberitahu kepada mereka apa yang harus dikerjakan, dengan memesankan : Hendaknya orang yang kini hadir mengkhabarkan kepada mereka yang tidak hadir, dan sampaikanlah hajatnya orang yang tidak dapat berjumpa denganku, kerana sesungguhnya barangsiapa yang menyampaikan hajatnya seseorang yang tidak mampu untuk bertemu dengan seorang pemimpin, maka Allah SWT akan menetapkan kaki orang itu kelak pada hari kiamat. Para pengunjung yang datang itu tidak keluar kecuali setelah mereka mengerti segala masalah dan dalilnya."
readmore »»  
Baca Selengkapnya..

Minggu, 12 Juni 2011

Sifat dan Akhlak Rosululloh SAW


Diriwayatkan oleh Ya'kub bin al-Fasawy dari Hassan bin Ali r.a, dia berkata, "Pernah aku tanyakan kepada bapa saudaraku yang bernama Hindun bin Abi Haala kerana dia adalah seorang yang pandai sekali dalam menyifatkan tentang peribadi Rasulullah SAW, dan aku sangat senang sekali mendengarkan sifat Rasulullah SAW untuk aku jadikan bahan ingatan. Maka katanya, "Rasulullah SAW adalah agung dan diagungkan, wajahnya berkilauan bagaikan bulan purnama, tingginya cukup (tidak pendek dan tidak jangkung), dadanya lebar (bidang), rambutnya selalu rapi dan terbelah di tengahnya, rambutnya panjang sampai pada hujung telinganya, dan berambut banyak, mukanya bergabung menjadi satu, di antara kedua alisnya ada urat yang dapat dilihat pada waktu Baginda sedang marah, hidungnya membungkuk di tengahnya dan kecil lubangnya, nampak sekali padanya cahaya, sehingga orang yang memperhatikannya mengira hidung Baginda itu tinggi (mancung). Janggutnya (jambang) lebat, bola matanya sangat hitam sekali, kedua pipinya lembut (halus), mulutnya tebal, giginya putih bersih dan jarang, pada dadanya tumbuh bulu halus, lehernya indah seperti berkilauan saja, bentuknya sedang, agak gemuk dan gesit (lincah), antara perut dan dadanya sama (tegak), dadanya lebar, di antara dua bahunya melebar, tulangnya besar, kulitnya bersih, antara dada sampai ke pusarnya ditumbuhi bulu halus seperti garis, pada kedua teteknya dan pada perutnya tidak ada bulu, sedangkan pada kedua hastanya dan kedua bahunya dan pada dadanya ditumbuhi bulu, lengannya panjang, telapaknya lebar, halus tulangnya, jari telapak kedua tangan dan kakinya tebal berisi daging, panjang hujung jarinya, rongga telapak kakinya tidak terkena tanah apabila Baginda sedang berjalan, kedua telapak kakinya lembut (licin) tidak ada lipatan dan kerutan. Apabila berjalan derapan kakinya itu terangkat tinggi seolah-olah air yang sedang jatuh (jalannya ringan, kakinya terangkat, tetapi tidak seperti jalannya orang yang sombong), jalannya tunduk dan menunjukkan kehebatan, apabila berjalan, maka jalannya agak cepat bagaikan dia turun dari tempat yang tinggi, apabila menoleh, Baginda menolehkan seluruh badannya, matanya selalu tertunduk ke bawah, dan pandangannya sentiasa memperhatikan sesuatu dengan bersungguh-sungguh, selalu berjalan dengan para sahabatnya, dan selalu memulai dengan salam apabila Baginda berjumpa dengan sesiapa pun."
readmore »»  
Baca Selengkapnya..